Penyuluh Agama Buddha KUA Batanghari Ajak Umat Renungkan Kesetaraan Gender dalam Perspektif Agama Buddha
28 Oct 2025 | 187 | Penulis : Intan| Publisher :
Batanghari (Selasa, 28/10/2025) — Penyuluh Agama Buddha Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Batanghari, Sri Utaminingsih, S.Ag, kembali melaksanakan kegiatan Puja Bakti Rutin (sembahyang) di Vihara Buddha Metta, Desa Batangharjo.
Kegiatan yang dilaksanakan setiap Selasa malam Rabu pukul 19.00 WIB ini diikuti dengan penuh khidmat oleh umat Buddha setempat.

Pada kesempatan kali ini, Sri Utaminingsih mengangkat tema menarik dan inspiratif, yaitu “Kesetaraan Gender dalam Perspektif Agama Buddha.” Dalam ceramah Dhamma-nya, beliau mengajak para peserta untuk memahami bahwa ajaran Sang Buddha sejatinya telah mengandung nilai-nilai kesetaraan yang luhur, bahkan jauh sebelum isu gender menjadi topik global.
“Banyak orang berpikir bahwa kesetaraan gender adalah gagasan modern, padahal lebih dari 2.500 tahun lalu Sang Buddha telah menegaskan bahwa potensi untuk mencapai pencerahan dimiliki oleh semua makhluk, tanpa membedakan pria atau wanita,”
Beliau kemudian menjelaskan bahwa inti dari ajaran Buddha — seperti Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan — bersifat universal dan tidak mengenal perbedaan gender. Setiap individu, laki-laki maupun perempuan, sama-sama memiliki kemampuan untuk mengatasi penderitaan (dukkha) melalui praktik moralitas (sila), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
Lebih lanjut, Sri Utaminingsih mengulas langkah revolusioner Sang Buddha yang mengizinkan berdirinya Bhikkhuni Sangha atau komunitas biksuni, sebagai pengakuan bahwa perempuan memiliki kapasitas spiritual yang setara dengan laki-laki.
“Keputusan Sang Buddha mendirikan Bhikkhuni Sangha merupakan tonggak besar dalam sejarah spiritual dunia. Itu bukti nyata bahwa wanita pun mampu mencapai kesucian tertinggi dan berperan penting dalam penyebaran Dhamma,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, beliau juga menyinggung sejumlah sosok perempuan suci dalam kitab suci, seperti Prajapati Gotami sebagai pelopor Untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhuni oleh Buddha Gautama, Bhikkhuni Khema yang terkenal karena kebijaksanaannya, serta Bhikkhuni Uppalavanna yang unggul dalam kekuatan batin. Kisah-kisah ini menjadi inspirasi bahwa pencerahan bukanlah hak istimewa satu gender, melainkan hasil dari praktik dan ketulusan hati.
Meski dalam sejarah terdapat beberapa aturan monastik yang tampak menempatkan bhikkhuni di posisi tertentu, Sri Utaminingsih menegaskan bahwa hal itu lebih merupakan penyesuaian terhadap budaya patriaki masa lampau, bukan inti dari ajaran Dhamma itu sendiri.
“Yang perlu kita pahami adalah pesan sejati Sang Buddha: nilai seseorang tidak diukur dari jenis kelaminnya, melainkan dari kebajikan dan kebijaksanaan yang ia kembangkan,” tuturnya.
Menutup Dhammadesana, Sri Utaminingsih mengajak seluruh umat untuk menyalakan semangat cinta kasih dan saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
“Marilah kita berjalan bersama di Jalan Mulia ini, saling mendukung dalam kebajikan, dan bersama-sama merealisasikan kedamaian sejati. Semoga semua makhluk hidup berbahagia — Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,”
Kegiatan Puja Bakti rutin di Vihara Buddha Metta ini tidak hanya untuk kegiatan sembahyang saja, tetapi juga wadah pembinaan spiritual dan pembelajaran nilai-nilai luhur Dhamma yang relevan dengan kehidupan modern.
Apakah Anda menyukai artikel ini?
Terpopuler
18 Aug 2026 | 236
26 Aug 2026 | 215