Air Sumur Menyurut, Doa Menguat: Warga Banjarrejo Gelar Shalat Istisqa
Penyuluh

Air Sumur Menyurut, Doa Menguat: Warga Banjarrejo Gelar Shalat Istisqa

  13 Sep 2026 |   29 |   Penulis : Asri Atun|   Publisher :

BATANGHARI ( Humas KUA ) — Air sumur yang mulai menyurut dan hujan yang belum kunjung turun mendorong warga Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, memperkuat ikhtiar dengan melaksanakan Shalat Istisqa di lapangan desa, Ahad (13/9/2026).

Shalat diikuti antusias oleh masyarakat bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, Kepala Desa Banjarrejo beserta perangkat desa, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Batanghari, serta Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Batanghari, Asri Atun.

Shalat Istisqa dipimpin Kyai M. Syaibani sebagai imam, Hendra Jaka Umbara sebagai muazin, sedangkan KH. Jalaludin Duritno bertindak sebagai khatib.

Dalam khotbahnya, KH. Jalaludin Duritno mengingatkan bahwa air merupakan nikmat Allah sekaligus sumber kehidupan. Ia mengangkat QS. Al-Mu’minun ayat 18 dan penjelasan Ibnu Katsir mengenai air yang diturunkan biqadar, yakni menurut kadar dan kebutuhan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa air diturunkan tidak secara berlebihan hingga menimbulkan kerusakan dan tidak pula terlalu sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan kehidupan.

Pesan tersebut kemudian diarahkan pada pentingnya menggunakan air sesuai kebutuhan, menghemat, dan tidak menyia-nyiakannya. Kekeringan, menurut pesan khotbah, semestinya menjadi momentum untuk memperkuat doa sekaligus memperbaiki cara manusia memperlakukan nikmat air.


Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Batanghari, Asri Atun, mengatakan Shalat Istisqa bukan semata-mata ikhtiar untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga momentum mengajak masyarakat melakukan muhasabah dan menjaga nikmat air.

“Kita berdoa agar hujan segera turun, tetapi doa juga harus disertai ikhtiar. Ketika air tersedia, kita harus menggunakannya dengan bijak, tidak berlebihan, dan menjaganya sebagai nikmat Allah,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat mengikuti Shalat Istisqa menunjukkan bahwa persoalan air mulai menjadi perhatian bersama. Salah seorang warga mengaku senang melihat masyarakat bersama tokoh agama, pemerintah desa, dan penyuluh agama berkumpul dalam satu ikhtiar.

“Alhamdulillah, kami merasa diperhatikan. Mudah-mudahan setelah Shalat Istisqa ini hujan segera turun dan membawa keberkahan bagi masyarakat,” tuturnya.

Shalat Istisqa di Banjarrejo akhirnya bukan hanya menjadi ikhtiar memohon hujan, tetapi juga pengingat bahwa air adalah nikmat yang harus disyukuri dan dijaga. Ketika air menyurut, doa menguat; ketika hujan kembali turun, manusia diingatkan untuk tidak menyia-nyiakannya. ***(Aa) 

Apakah Anda menyukai artikel ini?
Infografis